kritik vs Ego (curhat)

Sekedar berbagi cerita saja tentang komentar terhadap sebuah foto di jejaring sosial
ini terjadi pada salah satu foto temen di jejaring sosial facebook
katakanlah yang upload si fulan dan yang mengkritik si lufan

Singkat cerita
Si fulan mengupload beberapa foto di album facebooknya kemudian salah satu foto ditag ke si lufan, wajarkan kl si lufan melihat semua isi albumnya.
permasalahan terjadi ketika ada sebuah foto yang kurang menurut si lufan kemudian dia memberikan sebuah komen tentang foto tersebut dengan beberapa keterangan dan masukan secara teknis editing (menurutku memang karena editing fotonya kurang natural dalam bermain digital imaging)  akan tetapi si fulan dengan “Ego”nya meminta contoh hasil editan dari si lufan.

Kejadian itu masih menyisakan sedikit rasa “gak tenang karena ego terusik” si fulan pun menulis di statusnya yang secara tidak langsung menyindir si lufan yang hanya bisanya komen tanpa melihat kemampuan.

Dari cerita diatas aku mencoba untuk mengambil beberapa pelajaran

  • Jangan pernah merasa hasil karya kita terbaik.
  • Jika ada kritik segera koreksi lagi mungkin menurut kita baik belum tentu baik menurut orang lain ( tapi ini relatif ^_^ ).
  • Lihat sudut pandang karya kita di mata si kritikus, kl di sudut pandang kita maka karya kita hanya akan stagnan atau berjalan ditempat.
  • Ketika bermain digital imaging kita harus lebih detail lagi mengenai ke naturalan, jatuhnya cahaya serta detail lainnya.
  • Jika memang meminta contoh hasil editing, lebih baik disampaikan secara pribadi kalau perlu kirim foto original kita untuk di edit oleh si pengkritik.
  • Dan yang lebih penting jangan mendahulukan “ego”.
  • Kalau gak ingin di kritik ya jangan upload sesuatu di jejaring sosial ^_^

Salam ^_^


Luki Hermanto adalah seorang full time photographer dan Blogger ikuti kicauannya di @lebah96

Advertisement


No comments.

Leave a Reply